Pemasaran konten atau content marketing menjadi salah satu cara yang banyak digunakan brand untuk menjangkau calon pelanggan. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari artikel blog, unggahan media sosial, video pendek, sampai konten edukasi yang dibagikan melalui website.
Namun, membuat konten secara rutin ternyata belum tentu memberikan hasil yang diharapkan. Ada brand yang rajin mengunggah konten setiap hari, tetapi jumlah pengunjung website tidak bertambah Situasi seperti ini bisa menjadi tanda bahwa strategi pemasaran konten perlu dievaluasi. Lalu, apa saja ciri-ciri pemasaran konten yang tidak berjalan efektif? Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan.
1. Konten Tidak Memiliki Tujuan yang Jelas
Salah satu tanda pemasaran konten yang kurang efektif adalah tidak adanya tujuan yang jelas sejak awal. Brand mungkin sudah rutin membuat artikel atau mengunggah video, tetapi belum menentukan hasil apa yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut.
Padahal, setiap konten sebaiknya memiliki tujuan tertentu. Misalnya, memperkenalkan produk baru, meningkatkan kunjungan website, membangun kepercayaan calon pelanggan, atau mendorong audiens untuk menghubungi tim penjualan.
2. Topik Tidak Sesuai Kebutuhan Audiens
Konten yang menarik bagi perusahaan belum tentu menarik bagi calon pelanggan. Hal ini sering terjadi ketika brand terlalu fokus membicarakan produk, fitur, atau keunggulan bisnisnya sendiri.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan terus mengunggah informasi mengenai produk terbaru, tetapi tidak pernah membahas masalah yang sedang dihadapi calon pelanggannya. Konten seperti ini mungkin tetap memberikan informasi, tetapi belum tentu menjawab kebutuhan audiens.
3. Terlalu Sering Mengikuti Tren
Mengikuti tren bisa menjadi cara untuk memperluas jangkauan konten. Namun, jika semua konten hanya dibuat berdasarkan tren yang sedang ramai, identitas brand justru bisa menjadi kurang jelas.
Tidak semua tren cocok untuk setiap bisnis. Tren yang populer di kalangan anak muda, misalnya, belum tentu sesuai dengan target pasar perusahaan yang menawarkan layanan profesional untuk bisnis lain.
4. Kualitas Konten Tidak Konsisten
Konsistensi dalam pemasaran konten bukan hanya tentang seberapa sering sebuah brand mengunggah sesuatu. Kualitas informasi, gaya komunikasi, dan kesesuaian pesan juga perlu dijaga.
Ada brand yang menerbitkan artikel panjang, tetapi isinya terlalu umum dan tidak memberikan informasi baru. Ada pula yang membuat video dengan tampilan menarik, tetapi pesan utamanya sulit dipahami.
konsistensi gaya komunikasi agar audiens lebih mudah mengenali karakter bisnisnya.
5. Tidak Memiliki Strategi Distribusi Konten
Konten yang bagus tidak otomatis ditemukan oleh orang yang tepat. Setelah selesai dibuat, konten masih perlu didistribusikan melalui kanal yang sesuai dengan kebiasaan target audiens.
Sebagai contoh, sebuah brand mungkin sudah menerbitkan artikel yang informatif di website. Namun, jika tidak memperhatikan SEO, artikel tersebut bisa sulit ditemukan melalui mesin pencari. Begitu juga dengan video yang hanya diunggah ke satu platform, padahal calon pelanggan lebih aktif di kanal lain.
6. Tidak Memperhatikan Data dan Performa
Pemasaran konten akan sulit berkembang jika brand tidak pernah memeriksa hasil dari konten yang sudah dipublikasikan. Tanpa data, keputusan untuk melanjutkan atau mengubah strategi hanya didasarkan pada perkiraan.
Padahal, ada banyak indikator yang bisa digunakan untuk mengevaluasi performa konten. Misalnya, jumlah kunjungan website, durasi membaca artikel, jangkauan unggahan, interaksi audiens, jumlah klik, hingga pertanyaan yang masuk dari calon pelanggan.
Bingung cara mengatasi permasalahan perbaikan content marketing agar tepat sasaran dan efektif untuk brand Anda? Bekerja sama dengan IDEOWORKS agensi bisa menjadi solusinya!